Bungkam Komentar Nyinyir Netizen, Ashanty Buktikan Kualitas Disertasi 300 Halaman di Sidang Terbuka Unair

SURABAYA – Ujian Doktor Terbuka Ashanty Hastuti, S.Sos., M.M. di Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga (Unair) pada Rabu, 13 Mei 2026, menjadi ajang pembuktian telak yang membungkam keraguan publik. Sebelumnya, tak sedikit netizen yang melontarkan cibiran bernada meremehkan saat poster disertasinya yang berjudul “Respons Adaptif Penyanyi Baby Boomers Dan Generasi X Terhadap Transformasi Digital Di Industri Musik Indonesia” diunggah ke media sosial.
Banyak warganet yang mendadak menjelma menjadi “dosen penguji jalur online”, mengkritik judul tersebut terlalu sederhana, menyamakannya dengan level skripsi S1, hingga menuding beberapa pihak yang berkomentar sekadar mencari panggung atau pansos. Namun, segala nyinyiran tanpa membaca isi karya ilmiah tersebut patah di ruang sidang.
Usai dinyatakan lulus dan meraih gelar doktor, Ashanty membeberkan bahwa di balik judul yang dianggap sepele oleh netizen, tersimpan analisis yang mendalam.
“Semoga bisa berguna buat industri musik Indonesia. Walaupun terlihat hanya perbandingan antara baby boomers dan Gen X dalam beradaptasi di digital, tapi yang dibahas dan dibedah banyak sekali,” ungkap Ashanty.
Istri dari musisi Anang Hermansyah tersebut tak menampik bahwa perjalanannya menyelesaikan pendidikan S3 bukanlah hal yang mudah. Ia harus pontang-panting membagi waktu, tenaga, dan pikiran.
“Aku sangat bangga buat orang-orang yang masih mau belajar di umur yang mungkin sudah tidak muda lagi. Aku juga kesibukan istri, ibu, nenek, kerjaan banyak, ikut lomba dan banyak hal, tapi tetap berusaha bagaimana harus selesai dengan baik,” ujarnya haru.
Secara khusus, ia juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada sang promotor, Dr. Suko Widodo, yang terus memberikan bimbingan serta dukungan moral hingga ia berhasil meraih gelar doktor.
Menanggapi fenomena netizen yang judging a book by its cover alias menghakimi hanya dari sebaris judul, dosen FISIP Unair sekaligus pihak yang membimbing penelitian ini pun angkat bicara. Ia memberikan pernyataan menohok bagi siapa saja yang meremehkan penelitian sang artis.
“Bayangkan siapa yang memikirkan seorang Rafika Duri, seorang Rhoma Irama harus berhadapan dengan anak-anak muda dalam dunia digital. Kelihatannya simpel, tapi coba baca dulu disertasinya 300 halaman,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menilai bahwa kekuatan utama dan novelty (kebaruan) dari disertasi Ashanty justru terletak pada pendekatan storytelling dan dokumentasi mendalam mengenai pengalaman para musisi senior. Sebuah sudut pandang krusial terkait resiliensi generasi lama di tengah disrupsi teknologi, yang nyatanya selama ini sangat jarang tercatat dan tersentuh dalam kajian akademik di Indonesia.
Sidang terbuka ini pada akhirnya bukan hanya menjadi pencapaian pribadi bagi Ashanty, tetapi juga menjadi tamparan keras bagi kebiasaan buruk netizen yang kerap berkomentar sinis tanpa literasi yang cukup.
