Gubernur Jatim Targetkan Capai 100 % Semester Satu Dalam Penerapan IKM Mandiri Yang Diikuti 2.754 SMA/SMK

SURABAYA – Pemulihan pembelajaran pasca pandemi covid-19 menjadi focus utama  Kemdikbud Ristek salah satunya penerapan Kurikulum merdeka (IKM). Sebanyak 2.754 lembaga meliputi SMA,SMK dan SLB Penggerak sudah menerapkan Implememtasi Kurikulum Merdeka (IKM).

Dalam satu tahun terakhir sebanyak 332 lembaga di Jawa Timur telah ditunjuk Kemdikbud Ristek untuk menjadi pilot project Implementasi Kurikulum Merdeka Belajar, yaitu 204 SMK Pusat Keunggulan dan 128 SMA dan SLB Penggerak.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menjelaskan, capaian ini sangat  membanggakan semua  tidak lepas dari keinginan sekolah yang turut dalam menyelesaikan persoalan learning loss selama pandemi. Terbukti, dari total jumlah SLB, SMA/SMK negeri dan swasta yang sebanyak 4.044 lembaga, yang sudah melaksanakan kurikulum merdeka sebanyak 76%.

“Apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pihak, satuan pendidikan, ketua MKKS, ketua Korwas provinsi, Ketua MKPS provinsi yang telah bersama-sama membangun sinergi positif dalam pembangunan pendidikan di Jawa Timur,” ujarnya, Senen  (5/9).

Ia menambahakan, Melalui Dinas Pendidikan Jatim akan mendukung secara penuh kebijakan Mendikbud Ristek dalam implementasi kurikulum merdeka mandiri.  Sebab, ia berpendapat dengan adanya kurikulum yang tepat pada kondisi khusus ini, akan mampu menguatkan pentingnya perubahan tentang rancangan dan strategi implementasi secara efektif dan efesien.

“Kurikulum Merdeka merupakan jawaban untuk mengatasi krisis pembelajaran yang terjadi saat ini, karena pandemi Covid-19 yang menyebabkan  terjadinya  penurunan dan kesenjangan kualitas pembelajaran,” tegasnya. 

Dengan capaian prestasi yang membanggakan ini, Khofifah menargetkan pada semester 1 tahun ajaran 2023/2024  mendatang SLB,  SMA/SMK di Jawa Timur diharapkan menjadi pelopor kebijakan nasional IKM dengan keikutsertaan 100 persen. 

Hasil Implementasi Kurikulum Mandiri (IKM)

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Wahid Wahyudi menjabarkan ada perubahan dan perbedaan kurikulum merdeka dibanding kurikulum sebelumnya. Pada kurikulum Merdeka struktur kurikulum lebih fleksibel dengan jam pelajaran ditargetkan untuk dipenuhi dalam satu tahun.  Disamping itu,  guru akan lebih fokus pada materi esensial karena capaian pembelajaran diatur per fase.

“Kurikulum merdeka  ini, juga memberikan keleluasaan bagi guru dalam menggunakan berbagai perangkat ajar sesuai kebutuhan dan karakteristik siswa,” terangnya.

Contoh riilnya, kata Wahid seperti guru olahraga yang pada dasarnya memberikan pembelajaran dalam bentuk projek based learning. Dimana siswa tidak hanya mengetahui secara teori tapi juga dipraktikkan.

“Merdeka belajar sudah dicerminkan oleh guru olahraga. Mereka tidak hanya mengajarkan teori tapi juga praktik.  Misal guru memberikan pembelajaran teori permainan bola voli,  agar siswa memahami dan mengerti, maka teori yang diajarkan tersebut dipraktikkan di lapangan. Guru olah raga juga memberi kebebasan pada siswa untuk menyukai olahraga yang sesuai bakat minatnya,” jelasnya. 

Tak hanya bagi sekolah, kurikulum merdeka  juga memberi kesempatan bagi siswa untuk memilih kelompok mata pelajaran sesuai minat, bakat dan aspirasinya di fase F ( kelas XI dn XII ) .  Sedangkan bagi guru, mereka akan memgajar sesuai tahap capaian dan perkembangan siswa. 

“Pembelajaran dalam IKM ini berbasis project, jadi memberikan kesempatan lebih luas pada peserta didik untuk secara aktif mengeksplorasi isu-isu aktual lingkungan atau kesehatan. Project  ini untuk mendukung pengembangan karakter dan kompetensi profil pelajar pancasila,” pungkas Wahid.

Plt Kepala Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Jatim Rizqi mengucapkan terimakasih kepada Gubernur Khofifah yang telah mendorong SLB, SMA/SMK di Jatim untuk menjadi pelaksana IKM Mandiri terbaik dan terbanyak di Indonesia.

“Terimakasih juga kepada Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur atas dukungannya, semoga pendidikan di Jatim selalu menjadi yang terbaik,” ucapnya. 

Perlu diketahui, capaian ini melengkapi rentetan prestasi yang sebelumnya telah diraih.  Diantaranya,  Jawa Timur menjadi daerah yang jumlah siswanya diterima di PTN terbanyak melalui jalur SNMPTN dan SBMPTN dengan masing-masing total 120.463 siswa dan 26.781. Di samping itu, Kinerja pendidikan di Jatim juga mendapatkan penilaian tertinggi se- Indonesia, menurut “highlight” indeks kinerja urusan pendidikan hasil evaluasi penyelenggaraan pemerintahan daerah yang dilaksanakan oleh Kementerian Dalam Negeri (kemendagri).