Peternak di Solo Bagi Ayam hingga Gelar ‘Mandi Telur’, Protes Harga Anjlok dan Biaya Produksi Melonjak

SOLO – Puluhan peternak ayam petelur dan pedaging dari Solo Raya menggelar aksi damai di Bundaran Gladak, Kota Solo, sebagai bentuk protes terhadap anjloknya harga jual ayam broiler dan telur di tingkat peternak. Dalam aksi tersebut, mereka membagikan ayam hidup, telur segar, hingga jagung kepada masyarakat dan pengguna jalan.

Aksi yang berlangsung di kawasan Jalan Slamet Riyadi itu menarik perhatian warga. Selain membagikan ratusan ayam hidup dan puluhan kilogram telur, salah seorang peternak juga melakukan aksi simbolis dengan menyiramkan telur ke tubuhnya di atas mobil boks. Aksi “mandi telur” tersebut menjadi gambaran kerugian yang tengah dialami para peternak.

Koordinator aksi, Chris Handrika Imannuel Raharjo, mengatakan harga ayam broiler di tingkat kandang saat ini hanya sekitar Rp12.500 per kilogram, jauh di bawah Harga Acuan Pemerintah (HAP) sebesar Rp19.500 per kilogram. Kondisi serupa juga terjadi pada komoditas telur yang hanya dihargai sekitar Rp16.500 per kilogram di tingkat peternak.

Menurut Chris, situasi tersebut semakin berat karena biaya produksi terus meningkat. Harga bungkil kedelai sebagai salah satu bahan baku pakan disebut naik hingga Rp2.000 dalam enam bulan terakhir. Sementara harga jagung di tingkat peternak telah mencapai Rp6.800 hingga Rp7.000 per kilogram, melampaui harga acuan pemerintah sebesar Rp5.500 per kilogram.

Ia menilai kebijakan pemerintah belum berpihak kepada peternak. Selama ini, pemerintah dinilai cepat melakukan operasi pasar ketika harga telur melonjak di tingkat konsumen, namun belum memberikan langkah konkret saat harga di tingkat peternak justru terpuruk.

Chris memperkirakan peternak mengalami kerugian sekitar Rp9.000 hingga Rp10.000 untuk setiap kilogram telur yang dijual. Dengan harga pokok produksi mencapai Rp26.000 per kilogram, sementara harga jual hanya Rp16.500 per kilogram, kerugian tersebut dinilai sangat membebani, terutama bagi peternak kecil.

Sementara itu, anggota Gabungan Peternak Soloraya, Parjuni, menyebut aksi tersebut merupakan puncak kekecewaan para peternak akibat stok telur yang terus menumpuk dan sulit terserap pasar. Menurutnya, selain terjadi kelebihan pasokan, melemahnya daya beli masyarakat juga menjadi penyebab utama anjloknya harga telur.

Dalam aksi tersebut, sekitar lima kilogram telur stok lama digunakan untuk aksi mandi telur sebagai simbol protes. Sedangkan sekitar 45 hingga 50 kilogram telur segar dibagikan secara cuma-cuma kepada masyarakat yang melintas di lokasi.

Melalui aksi ini, para peternak berharap pemerintah segera menghadirkan kebijakan yang mampu menjaga keseimbangan harga di tingkat peternak dan konsumen, sekaligus mengendalikan harga bahan baku pakan agar usaha peternakan rakyat dapat terus bertahan.