Ratusan Warga Karanganyar Tukar MinyakKita Bantuan Pemerintah, Diduga Berbau Solar dan Minyak Tanah

KARANGANYAR – Ratusan warga di Kabupaten Karanganyar ramai-ramai menukarkan bantuan minyak goreng merek MinyakKita yang diterima dari program bantuan pangan pemerintah. Penukaran dilakukan setelah warga mengeluhkan aroma menyengat pada minyak goreng yang menyerupai bau minyak tanah dan solar.

Salah satu wilayah yang mengalami kejadian tersebut adalah Kelurahan Bejen, Kecamatan Karanganyar. Sejak awal pekan ini, warga berdatangan ke kantor kelurahan untuk mengembalikan minyak goreng bantuan yang dinilai tidak layak digunakan.

Bantuan pangan tersebut sebelumnya dibagikan kepada masyarakat pada Kamis dan Jumat lalu. Namun, setelah digunakan untuk memasak, sejumlah warga mengaku mencium bau tidak biasa dari minyak goreng tersebut. Beberapa warga bahkan mengeluhkan gangguan kesehatan seperti sakit kepala.

Lurah Bejen, Agus Sumarli, mengatakan hampir seluruh minyak goreng yang diterima warga mengalami kondisi serupa.

“Katanya berbau minyak pet (minyak tanah) sama solar. Akhirnya banyak sekali ternyata berbondong-bondong pada bau semua. Ada yang mengeluhkan kepalanya sakit. Warnanya juga agak gelap gitu, agak lebih pekat,” ujar Agus Sumarli, Rabu (24/6/2026).

Menindaklanjuti laporan warga, pihak kelurahan segera berkoordinasi dengan Dinas Pertanian Karanganyar dan Perum Bulog. Sebagai langkah cepat, Bulog langsung mengirimkan minyak goreng pengganti ke Kelurahan Bejen.

“Dari Bulog langsung melakukan droping barang pengganti ke kelurahan pada Senin pagi. Penukaran awalnya berubah, dari dua botol kemasan dua liter menjadi empat botol kemasan satu liter yang kondisinya lebih layak konsumsi,” katanya.

Menurut Agus, keluhan hanya ditemukan pada komoditas minyak goreng, sementara bantuan beras yang diterima masyarakat dipastikan dalam kondisi baik. Kelurahan juga terus membuka layanan penukaran bagi warga yang masih menyimpan minyak goreng bermasalah tersebut.

Sementara itu, Kepala Perum Bulog Kantor Cabang Surakarta, Nanang Harianto, menegaskan bahwa produk minyak goreng yang dikeluhkan warga berasal dari produsen dan bukan diproduksi oleh Bulog. Pihaknya hanya bertugas sebagai penyalur bantuan.

“Oh, aslinya itu sebenarnya langsung dari produsen. Karena itu kan kita sifatnya kan hanya menyalurkan, yang membuat produsen. Dan dia juga sudah memberikan klarifikasi pernyataan itu semua produknya ditarik diganti. Kan kami kan juga salah satu kena dampaknya,” ujar Nanang Harianto.

Nanang menjelaskan proses penarikan dan penggantian minyak goreng di Karanganyar dapat dilakukan dengan cepat karena jumlah distribusinya relatif sedikit. Ke depan, Bulog akan memperkuat pengawasan kualitas produk yang diterima dari produsen sebelum disalurkan kepada masyarakat.

“Kalau kami juga memastikan kualitas yang bermutu dari produsen. Sebenarnya sudah sudah kita lakukan, cuman kan itu kan karena murni dari produsen ya. kita kalau mau ngecek kan enggak semuanya bisa dibuka ya,” ujarnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa pemerintah pusat telah memutuskan untuk tidak lagi memasukkan minyak goreng sebagai komoditas bantuan pangan pada program berikutnya.

“Ke depannya kan di pemerintah pusat sudah memutuskan ke depannya tidak menggunakan minyak. Jadi hanya beras saja,” ujat Nanang.