Pameran Senang Riang Lagu Anak Lokananta, Jadi Media dan Eksplorasi Dunia Anak

SOLO- Salah satu pergeseran yang begitu terasa dari pola konsumsi musik digital adalah keberadaan lagu anak yang tidak lagi teridentifikasi secara gamblang.

Di era kaset pita distribusinya jelas. Ketika sebuah keluarga berkunjung ke toko kaset, masing-masing anggota keluarga dapat memilih sesuai preferensi. Sekat yang jelas memberi koridor bahwa lagu anak memiliki karakteristik yang khas.

Kebijakan politik yang digariskan oleh Orde Baru menyemai nilai moral dan edukasi sebagai poin utama dalam mempersiapkan generasi masa depan Indonesia.

Semarak industri pertelevisian menghadirkan berbagai tayang dengan membawa serta idola cilik sebagai sosok yang berprestasi dan memberi kebanggaan keluarga. Nama-nama seperti Eno Lerian, Trio Kwek-Kwek, Joshua, Bondan Prakoso hingga sosok Kak Ria Enes dan Susan dikenal luas. Tak terkecuali, sang pencipta lagu legendaris Papa T. Bob.

Pasca tahun 2000 situasinya berbalik 180 derajat. Batas dunia hiburan semakin kabur. Penggunaan perangkat laptop, tablet dan ponsel pintar memberi keleluasaan bagi anak-anak mengkonsumsi berbagai hal.

Di sisi lain ketiadaan ruang komunikasi antar generasi dan sikap permisif orang tua yang semakin sibuk dengan berbagai tuntutan serta tekanan menambah pelik permasalahan. Tidak berlebihan jika sejumlah kalangan menilai bahwa lagu anak semakin menghilang.

Alih-alih membawakan lagu-lagu yang bersifat sederhana, irama ceria, edukatif dan mudah dilagukan, anak-anak saat ini justru tak sungkan membawakan lagu-lagu dewasa yang identik dengan hubungan lawan jenis serta ekspresi bebas layaknya remaja dan bahkan manusia dewasa.

Berkaca dari fenomena tersebut, Lokananta menggelar pameran yang bertajuk Senang Riang Lagu Anak Lokananta. Pameran ini tidak lepas dari inisiasi Gutami Hayu P yang di kesehariannya bertugas sebagai salah satu guide di Galeri Lokananta.

“Koleksi lagu anak Lokananta menyimpan ragam irisan. Selain kuat sebagai karya musik untuk anak-anak, juga turut menjadi medium belajar dan eksplorasi dunia anak yang lekat akan pengetahuan kognitif, motorik, empati, alam, hingga imajinasi,” kata Gutami Hayu P, Kamis (4/6/2026).

Gagasan tumbuh dari perjumpaan bersama anak-anak saat sesi tur berlangsung sebagai bagian dari perjalanan riset. Di antaranya Raya dan Raka, pengunjung berusia 10 tahun, yang mengingatkan pentingnya akses pengetahuan relevan dan partisipatif bagi anak.

Dengan nada sopan, di Ruang Pertama Galeri Lokananta, Raya menginterupsi sembari bertanya, “Maaf, Kak Tami. Di mana koleksi yang tidak ada garis kuningnya—yang bisa dipegang dan dimainkan?”. Pertanyaan sederhana itu memperlihatkan besarnya rasa ingin tahu anak terhadap “pengalaman” belajar.

Momen kecil ini memperlihatkan perihal anak yang memandang Lokananta sebagai ruang eksplorasi hidup. Memungkinkan produktivitas pengetahuan untuk terus berlangsung, lewat pembacaan arsip-arsip yang relevan atas zaman. Pembacaan arsip Lokananta tentu tidak bisa dilihat secara mentah dan apa adanya, perlu kehadiran subjek penuh.

Misalnya, penentuan kurasi lagu non Jawa, pengurangan lagu dengan kesan ibuisme khas Orba, dan prioritas simbol serta warna (bukan tulisan) melalui display. Ketiganya adalah tawaran alternatif menerjemahkan arsip. Demi mewujudkan spirit “taman bermain” yang perlu diwujudkan untuk mendudukkan orang dewasa dan anak dalam perspektif tumbuh dan belajar.

Selaku Kurator Galeri Lokananta, Caroline Darmawan menyampaikan bahwa pameran ini memiliki arti penting. Ia menyadari bahwa Lokananta belum pernah menyajikan konten pameran yang ditujukan secara khusus bagi anak-anak ataupun keluarga.

Sementara Lokananta memiliki keragaman arsip musik, salah satunya lagu anak. Fokus utama pameran ini juga tidak lepas dari kekhawatiran bahwa kian hari lagu anak makin jarang diperdengarkan di ruang belajar, mulai dari formal, non-formal.

“Anak-anak lebih hafal lagu yang sedang trending di fyp Tiktok. Lupa akan tembang-tembang yang kaya pesan moral lewat untaian syair,” jelas Caroline.

Seperti lagu Bangun Pagi yang mengajarkan tanggung jawab dan kemandirian, Boneka Baru yang mendidik anak untuk berterima kasih dan belajar merawat barangnya dan Rasa Sayange yang mengajak anak belajar mengungkapkan kasih sayang kepada orang-orang di sekitar dengan riang gembira.

Ketika lagu anak perlahan menghilang dan tergantikan oleh lagu modern, kemampuan tutur bahasa, motorik, dan budi pekerti pun perlahan menurun. Galeri Lokananta mengajak publik untuk kembali mendengarkan lagu-lagu penuh makna ini. Sebuah pengalaman berharga bagi anak-anak sekaligus ajang nostalgia bagi gen-Z, millennial, hingga X. Melalui riset dan instalasi pameran yang dirancang oleh Gutami, Lokananta berharap karya musik dan lagu anak dapat terus terdengar di telinga, mata, dan tangan pengunjung.

Pameran ini berlangsung dari bulan Mei – Juli 2026. Pembukaan pameran akan digelar secara terbatas bagi tamu undangan yang berasal dari komunitas serta awak media pada:

Momen liburan kenaikan kelas diharapkan dapat membawa keceriaan bagi seluruh anggota keluarga untuk berkunjung menikmati pameran serta rangkaian program publik yang akan mengiringinya.